Cerita-cerita · Renungan

Semua Ada Hikmahnya

Malam itu malam selasa. Setelah perdebatan kecil dengan Mama, saya masuk ke dalam kamar tanpa meminta maaf padanya terlebih dahulu, kemudian saya langsung tidur. Besok pagi sekitar pukul 09.00 saya merasa kepalsaya agak pusing, saya berjalan ke dapur dengan sempoyongan. Sampai tiba waktu zuhur, badan saya benar-benar lemas dan demam cukup tinggi. Saya tidur dengan Mama di samping saya. Dia benar-benar sangat khawatir, karena hari ini adalah jadwal saya kembali ke Bogor untuk melaksanakan rutinitas kuliah seperti biasa. Sekitar pukul 3 saya bangun dan demam menurun. Tadinya Mama mau nganter ke Bogor, tapi Mama juga memikirkan Papa dan adik yang ada di rumah, akhirnya saya bisa meyakinkan Mama Papa untuk berangkat sendiri ke Bogor.

Setelah shalat ashar saya berangkat naik commuter line. Kebetulan kondisinya krl sangat ramai jadi terpaksa saya harus berdiri. Sesampainya di kosan, saya hampir pingsan, untungnya ada Sri yang jemput di pangkalan angkot. Perut saya terasa sangat sakit, saya tahu maag saya pasti kambuh. Kemudian saya langsung makan, tapi cuma sedikit yang kemakan karena mual. Malam harinya demi Allah kepala saya sangat pusing tanpa ampun. Kemudian Sri ke kamar saya ngasih minyak angin yang panasnya gila banget, terus dia pijit-pijit badan saya, kepala saya dan Alhamdulillah mendingan. Continue reading “Semua Ada Hikmahnya”

Advertisements
Islam · Kontemplasi · Renungan

Renungan 10 hari terakhir Ramadhan

ECH.

I got this from my ODOJ group. Well, nothing’s wrong to take a moment to reflect on what we’ve done.
And I think this one below is beautiful. Have a read~

Teman, marilah kita menangis,
Jika itu bisa melapangkan gundah yang mengganjal sanubari. Bahwa Ramadhan sudah bergegas di akhir hitungan. Dan tadarus Quran kita tak juga beranjak khatam.
Jika itu adalah ungkapan penyesalan.
Jika itu merupakan awal tekad untuk menyempurnakan tarawih dan Qiyamul lail kita yg centang perenang.

Menangislah,
Biar butir bening itu jadi saksi di yaumil akhir. Bahwa kita adalah hamba Alloh yg lalai lagi terlena. Yang berdoa sejak 2 bulan sebelum ramadhan, yang berlatih puasa semenjak Rajab, yang rajin mengikuti tarhib Ramadhan,
tapi sampai puasa mendekati akhir..
masih juga menggunjing kekhilafan teman,
masih juga tak bisa menahan ucapan dari kesia-siaan,
tak juga menambah ibadah sunah, bahkan hampir terlewat menunaikan yang wajib.

Menangislah, lebih keras.
Alloh tak menjanjikan apa-apa…

View original post 109 more words

Cerita-cerita · Renungan

Alhamdulillah

Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah..

Secuil cerita yang insyAllah bisa membuat kita semakin mencintai Allah Sang Maha Romantis.

Suatu pagi yang mendung beriringan dengan hati saya yang juga sedang mendung. Hati saya dibuat berdebar-debar oleh handphone saya sendiri. Berkali-kali saya cek inbox. Tidak ada pesan masuk sama sekali. Satu persatu teman-teman yang mendaftar sebuah beasiswa yang sama dengan saya mendapat pengumuman bahwa mereka lolos tahap berkas. Jarum jam tangan saya terus berputar, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, sampai hari itu hampir berlalu. Jam 9 malam saya cek lagi handphone saya. Tidak ada pesan masuk dari instansi pemberi beasiswa tersebut.

Hari berganti seakan tak tahu bagaimana hancurnya perasaan saya. Siangnya, teman saya memberi kabar bahwa peserta yang lolos tahap berkas sudah dipublish di website. Dengan jari bergetar, saya buka postingan di website tersebut. Dengan jeli mata saya melihat satu persatu NIM (Nomor Induk Mahasiswa) peserta yang lolos. Dan sampai urutan terakhir pun ternyata memang, tidak ada nama saya.

Dari (sekitar) belasan orang teman-teman saya yang mendaftar beasiswa tersebut, hanya saya yang tidak lolos. HANYA SAYA. “Apa salah saya, kecilkah nilai saya? Tidak pantaskah saya mendapatkan beasiswa tersebut? Mengapa hanya saya?” “Satu pintu tertutup, seratus pintu terbuka, masih banyak jalan lain, De”, Perang batin dalam diri saya. Terkadang saya masih belum bisa menerima, karena saya sangat ingin membantu meringankan beban ayah ibu. Saya takut mengecewakan mereka. Saya hibur hati ini. Bismillah, Allah tentunya tahu yang terbaik untuk saya. Ada rencana Allah yang lebih indah. 🙂

Pagi ini, ketika saya sedang membaca buku, entah kenapa tangan saya kemudian meraih handphone saya yang terletak di atas meja. Saya buka pesan masuk, kemudian dengan terbelalak kaget, saya mendapat kabar bahwa saya mendapat beasiswa dari sebuah instansi lain –yang sudah lama saya apply– selama ini saya melupakan beasiswa tersebut karena sudah berbulan-bulan tidak mendapat pengumuman. Tapi ternyata, inilah jawaban Allah dari kekecewaan saya.

Allah, maafkan saya yang masih sangat kurang sabar menunggu..
Allah maafkan hati saya yang belum bisa berlapang dada..
Allah maafkan saya yang lupa bahwa Engkau selalu ada dan selalu meberikan yang terbaik..
Allahu akbar, Alhamdulillah…

Islam · Kontemplasi · Ramadhan · Renungan

Ramadhanku

Dada yang begitu sesak kini kurasa. Jerit tangis tanpa suara, air matapun menetes tak terasa, dan kubiarkan hati yang bicara. Di atas sajadah yang ku gelar aku menghamba serendah-rendahnya padaMu Tuhan. Tiga puluh hari telah berlalu, begitu banyak ku abaikan waktuku hanya untuk urusan dunia. Kulupakan Engkau tanpa sadar, kulupakan rasa syukur.Ya Allah Yang Maha Memaafkan, sudikah kiranya Kau memaafkan aku yang berlumur dosa?

Pantaskah aku mendapatkan kemenangan sebagaimana yang Kau janjikan pada kami, diterimakah semua amal ibadah kami?

Puasa kami yang hanya menahan lapar dan haus, tanpa menghiraukan hawa nafsu serta hati yang banyak noda?

Quran dan Hadis yang kami baca hanya untuk mengejar hatam sebanyak-banyaknya?

Sedekah yang kami keluarkan lebih banyak daripada bulan-bulan yang lainnya? Taukah Kau apa yang hati ini katakan? Ikhlaskah aku atas semua ibadah yang kulakukan hanya untukMu? Ya Tuhan aku tidak tau……

Ya Rahman, Yang begitu dekat dengan urat nadiku, Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu, bahkan hati terkecilku, Yang Menyayangiku tanpa ragu, Yang Melindungiku di setiap waktu, Yang bahkan kulupakan bahwa Kau selalu hadir dalam tidurku,

Pahala yang tanpa batas Kau janjikan, atau keikhlasan setiap penghambaanku. Manakah yang sebenarnya aku harapkan Tuhan..

Pantaskah aku kembali suci sedangkan aku tak peduli?

Kini Ramadhan telah pergi, meninggalkanku sendiri, terduduk merenungi, akan kesalahan dalam diri ini. Semoga kita dipertemukan kembali, dengan jiwa yang lebih jernih dan taqwa yang mendasari..

Ya Allah kumohon.. ampunilah dosaku, maafkan kekhilafanku, tunjukkan aku, jalan penuh cahaya yang berhujung padaMu.

Jangan putuskan cinta dan kasihMu padaku, jangan pernah tinggalkan aku Ya Allah Ya Tuhanku. Sungguh aku tak akan bisa hidup tanpaMu..

Renungan

Learn It In Life

I have received a short message from one of my friend, the content is about like this..

Ketika kerjamu tidak dihargai,
maka saat itu kau sedang belajar tentang KETULUSAN

ketika usahamu dinilai tidak penting,
maka saat itu kau sedang belajar tentang KEIKHLASAN

ketika hatimu terluka sangat dalam,
maka saat itu kau sedang belajar tentang MEMAAFKAN

ketika kau harus lelah dan kecewa,
maka saat itu kau sedang belajar tentang KESUNGGUHAN

ketika kau merasa sepi dan sendiri,
maka saat itu kau sedang belajar tentang KETEGARAN

Hidup adalah rangkaian proses belajar,
belajar bersyukur meski banyak kekurangan
belajar ikhlas meski tak rela
belajar taat meski berat
belajar memahami meski tak sehati
belajar bersabar meski terbebani
belajar setia meski tergoda
belajar dan terus belajar dengan keyakinan setegar karang, tapi sudah kodrat, hati manusia seperti air laut yang bergelombang pasang surut dan sering terbawa arus, oleh karena itulah kita tetap harus terus belajar untuk tetap belajar di jalan yang benar.

Islam · Renungan

Beberapa Hal yang Dapat Mendatangkan Kebahagiaan

1. Amal Shalih, sebagaimana yang dijanjikan oleh Alloh SWT melalui firmanNya: “Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia orang mukmin, maka sungguh akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. 16:97)
2. Istri yang shalih, sebagaimana yang diajarkan oleh Alloh dalam berdoa melalui firmanNya: “Ya Tuhan kami, jadikanlah istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami.” (QS. 25:74)
3. Rumah yang lapang, sebagaimana yang disebutkan dalam doa Nabi SAW: “Ya Alloh, lapangkanla rumahku untukku.”
4. Penghasilan yang baik (halal), sebagaimana yang ditegaskan dalam sebuah Hadits yang mengatakan: “Sesungguhnya Alloh itu baik. Dia tidak menerima, kecuali yang baik (halal).”
5. Akhlak yang baik dan menyayangi orang lain, sebagaimana yang disebutkan dalam perkataan Nabi Isa as yang disitir oleh firmanNya: “Dia menjadikan aku seorang yang selalu menebarkan kebaikan dimana saja aku berada.” (QS. 19:31)
6. Bebas dari hutang dan tidak boros dalam membelanjakan harta. “Mereka tidak bersikap boros dan tidak pula kikir.” (QS. 25:67) “Janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula terlalu mengulurkannya.” (QS. 17:29)
Factor penunjang kebahagiaan adalah kalbu yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berdzikir menyebut Alloh, dan kemampuan mengendalikan diri untuk bersabar. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh seorang penyair yang mengatakan:

Bersyukur, Berdzikir, dan Sabar
Di dalamnya terkandung kebahagiaan dan pahala yang besar

~Laa Tahzan, Dr. Aidh bin Abdullah Al Qarni~