Cerita-cerita · Renungan

Tentang Kehilangan

Kehilangan sesuatu berarti memberikan kesempatan pada sesuatu yang lebih baik untuk dapat dimiliki oleh kita. -Charles Notes

Hari ini gue belajar banyak tentang arti bersyukur yang sesungguhnya. Tentang pelajaran tersulit, yang dipelajari seumur hidup, yang tak ternilai harganya, yaitu ikhlas.

Hujan turun dengan manja seharian ini. Langit selalu teduh mebuat hati merasakan damai dan bibir yang selalu ingin mengulas senyum. Rintik hujan yang tak kunjung reda membuat gue memilih bajaj sebagai alternatif pulang kantor. Tetapi ada yang beda dengan gue hari ini, dari awal menjalani hari sudah merasakan gelisah, pikiran kosong. Bertolak belakang sekali dengan keindahan langit seharian ini.

Setelah naik bajaj, gue melanjutkan pulang dengan commuter line seperti biasa. Bukan tanpa sebab hadirnya feeling blue hari ini. Ada beberapa hal yang sekarang memang sedang memberatkan pikiran gue dan membuat gue rasanya hanya ingin duduk melamun, membersihkan pikiran. Halah kok panjang banget intronya. Intinya gue lagi nggak mood ngapa-ngapain. Benar-benar lagi nggak mau melakukan aktivitas apapun.

Setelah sampai stasiun tujuan akhir, gue langsung siap-siap memesan ojol (ojek online). Kemudian gue langung turun dan buru-buru keluar karena abangnya bilang sedang otw ke lokasi penemputan. Setelah 5 meter menuju tap gate, gue baru inget kalau goody bag gue ketinggalan di bagasi kereta. Langsung dong gue masuk lagi ke dalem, tapi sayangnya gue lupa gue duduk dimana tadi. Jadi gue menyusuri semua gerbong kereta. Dan hasilnya.. nihil. Gue panik banget karna goody bag itu berisi payung favorit dari jaman kuliah, sepatu kesayangan gue buat meeting, dan…. Tupperware! Aduh mati gue, berharga semua isinya. Berharga bukan dari sisi nilainya, tapi manfaatnya.. dan kenangannya 😦

Hal tersedih adalah ketika gue ke ruangan petugas kereta ternyata nggak ada juga goody bag nya, biasanya kalau kereta sudah kosong, barang-barang tertinggal akan disisir oleh petugas, tapi ternyata ngga ada yang menemukan. Yasudahlah, memang hari ini lagi kurang aqua banget kayaknya. Such a bad day banget tapi yaa gue mencoba yakin pasti ada sesuatu dibalik ini. Awalnya gue sempet bergumam dalam hati ketika naro barang gue itu di bagasi kereta, “ih amit2 banget ya kalau ampe ketinggalan. Haha” gue pikir ini cuman kekonyolan gue aja, tapi mungkin itu adalah sugesti.

Setelah gue naik ojol, gue bener-bener merenung, apa ya salah gue. Apa karna tadi lupa shalat dhuha, apa kurang zikir, apa kurang sedekah, atau abis nyakitin hati orang tua, entahlah.. gue niatin deh nanti mau ngasih tip lebih, kali aja karna gue akhir-akhir ini kurang sedekah dan terlalu memikirkan duniawi.

Tiba-tiba abangnya ngajak ngobrol, gue sebenernya lagi nggak mood juga buat basa basi. Tapi yaudalah daripada semakin keruh otak gue, gue ladenin aja abangnya ngobrol. Awalnya si abang cuma nanya gue pulang kuliah atau kerja. Mainstream question. Nggak berangkat, nggak pulang pertanyaannya ini-ini aja. Mungkin gue emang masih cute.

Karena ngalir, secara nggak langsung si abang jadi cerita tentang kehidpannya. Istrinya baru saja melahirkan anak ketiga. Waah seneng deh dengernya, terus gue iseng nanya tentang anak pertama dan anak keduanya. Ternyata anak keduanya telah meninggal dunia. #nyess kayak digampar bolak-balik rasanya. Gue cuma kehilangan sepatu sedihnya minta ampun, dia yang kehilangan anaknya masih bisa cerita sambil senyum. Terus dia cerita juga kalau dia selain ngojek juga ternyata kerja di RS. Gue spontan bilang, “asiik tiap bulan double pemasukan dong bang. Hehe.”

“Iyaa neng alhamdulillah saya mah bersyukur aja selalu ada jalan yang Allah kasih asalkan kita ikhlas.” Karena gue ladenin ngobrol, akhirnya gue tau kalau abangnya jadi OB di RSUD yang digaji Rp 500.000/bulan. Gue semakin #nyess dengerinnya, setelah tadi merasa ditampar, gue sekarang kayak merasa ditonjok. Bahkan dia juga cerita kalau dulu sempat kerja di suatu tempat dan tanpa gaji, hanya ada uang makan. Gue langsung berkaca-kaca saat itu juga, nahan nangis bener-bener ngga enak. Malu banget kalo sampe ketauan gue nangis. Abangnya berkali-kali minta maaf karna cerita-cerita, dia bilang bukannya mau ngeluh sama gue, tapi dia malah bersyukur walaupun kehidupannya seperti itu, dia tetap bisa bahagia dengan keluarga kecilnya.

Setelah turun, gue baru inget kalau payment ojol ini gue pake credit card, gue minta maaf deh sama abangnya karna da jadi nggak pegang uang cash, mana gue pake promo lagi. Terus abangnya udah mau pergi aja, tapi karna udah niat dari awal gue kasih lah tip ke abangnya dan dia berkali-kali nolak sampai akhirnya dia mau terima.

Sampai di kamar gue merenung, si abang tadi kayaknya memang tulus orangnya, dan cerita tersebut bukan untuk minta dikasihani. Soalnya dia berkali-kali minta maaf sudah cerita-cerita tentang hidupnya dan dia gamau dikasih tip. Akhirnya gue sms si abang, intinya gue ngasih tip karna sudah niat dari awal, bukan karna kasihan.

Nggak nyangka aja secepat itu Allah menjawab masalah dan kegelisahan yang gue alami. Bahkan dalam hitungan menit. Bahwa kita sudah sepatutnya bersyukur atas apapun yang telah kita miliki. Maupun yang telah hilang.

Allah selalu punya cara bagaimana mencintai setiap makhluk-Nya. Bagaimana menyayangi makhluk-Nya dengan memberikan pelajaran yang berharga dalam hidup.

Ini sepele, tapi percayalah, segala sesuatu terjadi karna campur tangan Allah, dan Dia tidak sedikitpun meninggalkan hambaNya.

Advertisements

17 thoughts on “Tentang Kehilangan

  1. Kereen
    Salut deh kak sama tulisannya. Suka sama sisipan kocaknya, suka sama pelajaran hidupnya.
    Kadang ngerasa malu sendiri kalau tau ada orang lain yang jalan hidupnya lebih berliku dari kita, kitanya malah ngeluh-ngeluh sendiri

    1. Makasih Fadeeel 😊😚 hihi
      Bener banget Del, tapi kadang kita memang harus ‘dipecut’ dengan menengok lika-liku hidup org lain biar bersyukur terus 😂

  2. Betul banget, hidup asal dijlni dg penuh syukur dan ikhlas, maka semuanya akan terasa indah, apapun yg kita alami, krn kita prcya bahwa semuanya tak terlepas dari kuasa atau campur tangan Tuhan.

    Bagus mbak Rahma, anda mengakhiri tulisan Anda dg penguatan, jd gak mulu ttg keluhan.

  3. Wah kadang-kadang saya juga sedih. Malah iri saja dengan orang lain yang punya banyak teman. Meskipun dah jarang sih merasa kesepian karena bisa komen2 di blog dan komunitas di fb. Kudu lebih banyak bersyukur nih biar nggak iri. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s