Cerita-cerita · Opini

Hidup Kita Nggak Boleh Statis

Kalo kita dengar sekilas, kata statis memiliki kemiripan dengan statistik. Padahal artinya jelas sungguh berbeda. Statis /sta·tis/ dalam KBBI adalah dalam keadaan diam (tidak bergerak, tidak aktif, tidak berubah keadaannya); tetap.

Terus apa sih hubungannya istilah statis dengan hidup kita?
Imo, hidup yang statis adalah hidup yang monoton, selalu berada di comfort zone, sulit untuk bergerak maju dan mengembangkan diri. Nggak enak kan hidup yang gitu-gitu aja? Saya pribadi nggak suka menjalankan rutinitas yang sama setiap hari. Bangun – kerja/kuliah – makan – solat – pulang – tidur. So, nggak ada yang bisa diceritakan pada anak cucu kita kelak. Dan nggak ada yang bisa diceritakan di blog 😋

Generasi yang lahir pada tahun 90an saat ini benar-benar dituntut untuk menjadi generasi yang kreatif, terus bergerak dan melakukan perubahan. Pada lingkungan sekitar, juga pada dunia. Saya merasa generasi kita sedang berada dalam zaman peralihan. Zaman dimana segala sesuatunya mulai berkembang, makin banyaknya inovasi yang tercipta dari tangan-tangan kreatif. Dan siapa lagi yang bisa jadi agent of change kalau bukan kita? Jadi agent of change itu bisa kita posisikan dimana saja. Pada dunia, negara kita, agama bahkan di lingkungan rumah, di kelas, di kantor, di RT, di mana-mana. Apapun efeknya, walaupun nggak besar, yang penting ada niat dan usaha. Minimal efek itu hanya satu orang yang merasakan yaitu diri sendiri.

Mau cerita.
Dari kecil saya sukanya ngorek-ngorek sesuatu. Berkutat pada sesuatu yang saya suka, walaupun musiman juga sih hehe. Dulu waktu saya SD kelas 3, saya suka sekali membeli aksesoris dari manik-manik. Karna sudah terlalu banyak yang saya beli dan saya pakai, sampailah saya pada titik bosan. Kemudian saya kepikiran mau custom gelang saya sendiri. Akhirnya saya bredel semua gelang dan kalung, saya kumpulkan manik-maniknya, saya rancang ulang dan saya jual! Harga satuannya gopean (Rp 500) sampai seribu rupiah. Marketnya siapa? Anak tetangga 😁 saya tulis pakai kertas di depan pagar (jual gelang dan kalung manik-manik). Nggak banyak memang yang beli, tapi ada dan itu menjadi kepuasan tersendiri.

Image Source

Pernah juga waktu saya kelas 5 SD. Saya sama teman-teman di gang rumah saya jalan-jalan ke toko aksesoris yang baru dibangun di dekat rumah. Disana banyak sekali kertas binder yang sedang tren pada zamannya, stiker-stiker lucu, dan lain-lain. Waktu itu saya cuma bawa duit Rp 6000 dan bisa dapat berbagai macam the cute stuff. 

Seminggu kemudian saya bawa ke sekolah, dan saya jual. Ternyata mereka sangat suka dan saya jadi pelopor pedagang di kelas haha😂 Saya jadi punya uang jajan tambahan, lumayan buat beli ale-ale sama mie sakura. Keesokan harinya banyak sekali dari teman-teman saya yang ikutan jualan dari pulpen yang lucu-lucu, binder, amplop dan kertas surat bergambar, dan lain-lain. Setelah mereka semua memulai berdagang, saya berhenti. Saya hanya tersenyum, dan senang! Kelas saya jadi sangat hidup dan berkualitas.

Image Source

Pernah juga waktu SD kelas 6, setiap kelompok mendapat tugas untuk presentasi mata pelajaran IPA. Semua kelompok mempresentasikannya yang begitu-gitu saja. Ada yang opening, ada yang baca materi bergantian, ada yang closing. Kelompok saya, saya bikin beda. Di akhir presentasi saya bikin kuis-kuisan dari materi yang kelompok saya presentasikan. Yang bisa jawab dengan cepat dan benar akan mendapat hadiah. Walaupun hadiahnya cuma permen tapi permennya saya beli pakai uang sendiri, dan alhasil kelas saya jadi nggak membosankan, nggak ngantuk, dan seru! Karna semua jadi pada buka buku lagi dan belajar lagi.

Saya juga suka banget ngerombak kamar, bikin sesuatu dari barang-barang bekas (diy stuff). Ngublek-ngublek barang yang tidak terpakai lagi jadi sesuatu yang bisa dipajang dan dimanfaatkan. Saya pernah menceritakannya di tulisan saya yang ini. 

Waktu kuliah, pada tingkat satu saya sudah ingin menjadi anggota BEM. Tapi karna nggak lolos wawancara, saya ngajak beberapa teman saya bikin sesuatu. Kami memiliki kesukaan yang sama, yaitu aksesoris gelang dan kalung. Karna sudah kuliah, niatnya lebih besar daripada waktu SD. Kami butuh modal, karna uang dari ortu digunakan untuk makan dan untuk ditabung di akhir bulan, akhirnya kami jualan donat. Saat itu donat lagi ngetren di kampus. Untungnya lumayan banyak, walaupun gak terlalu kerasa karna kami juga ikut beli donatnya (jualan makanan bikin laper!) tapi hasil penjualan bisa dirasakan. Akhirnya kami beli manik-manik di pasar anyar, Bogor. Kami rancang sendiri sesuai yang kami suka. Lumayan banyak yang beli, tapi karna kami juga suka, kami juga beli itu gelang dan kalungnya. Hahaha

Mungkin niat jualan saya dari dulu adalah hanya untuk mengembangkan ide dan menjalankan hobi, belum terlalu mengejar keuntungan. Karna sejujurnya saya nggak suka jualan, saya hanya suka melakukan hobi saya dan mencari peluang untuk dijadikan uang😅 Saya pun dalam berorganisasi paling nggak mau jadi tim danus (dana usaha) maupun sponsorship✌ hehe

Tapi saat ini saya, saudara saya, dan teman saya sedang menjalankan bisnis kecil di bidang minuman (sila cek lorange.id tapi web masih tahap pengembangan). Cari ide dan cari inovasi bagaimana agar selalu berkembang itu butuh pemikiran yang dalam dan waktu yang cukup. Karna Lorange sudah berjalan hampir setahun, saudara saya membuka bisnis baru, kemudian saya dan teman saya juga akan membangun ide dan inovasi baru untuk menjalankan hobi kami. Semoga bisa launching tahun depan ya! Hehe. 

Capture


Selain itu, aktivitas menulis dan blogwalking juga merupakan wujud dari kreativitas. Sekarang saya juga diamanahi sebagai redaktur sebuah komunitas blog yang sedang saya ikuti yaitu 
Obrolin. Walaupun peran saya tidak besar, saya cukup senang bisa bergabung di dalamnya.

Balik lagi ke kehidupan kita, apapun yang kita lakukan, walaupun efeknya tidak besar di dunia atau di masyarakat, walaupun keuntungan materi dan perubahan moral di lingkungan tidak banyak, manfaat tersebut minimal bisa kita rasakan sendiri. Yang mungkin bisa kita tularkan kepada yang lain. Manfaat yang seharusnya berkelanjutan, yang dapat dijadikan sebagai ilmu baru dan pengalaman baru untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna. 

Advertisements

12 thoughts on “Hidup Kita Nggak Boleh Statis

  1. kayaknya kamu tuh berbakat bidang bisnis, punya naluri bisnis yg bagus serta bisa mengaplikasikan antara ide dengan eksekusi. ada bagusnya tuh di coba untuk terjun di bidang jual beli atau produk sesuatu.

  2. Wah kebalikan sifat saya. Saya sih maunya hidup sesuai jadwal dan rutinitas yang sama setiap hari. Agar bisa menguasai skill yang dilakukan. Klo dah mahir, nanti pasti lebih cepat dalam beraktivitas, artinya ada tambahan waktu luang yang bisa di manfaatkan untuk kegiatan baru 😀

    1. Nah iya mas Shiq4, waktu luang untuk kegiatan baru itu yang kumaksud dengan hidup tidak statis 😁
      Kalau masalah rutinitas sih memang akunya aja yang bosenan dan gak bisa diem hihi😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s