Cerita-cerita

Mbak, boleh pinjam aplikasi ojek online nya?

Hai, semuanya. Hari ini gue pulang kantor seperti biasa. Jam 6 sore, naik kereta.

Gue naik kereta dari stasiun cawang-manggarai, kemudian lanjut stasiun manggarai-bekasi. Ada yang beda dari perjalanan gue pada hari ini. Tepatnya di stasiun manggarai, ada musisi jalanan a.k.a pengamen sekitar usia 35an masuk krl. Khas dengan gitarnya dan kaleng berisi uang logam. Anehnya adalah, dia megang hp android sambil nanya ke penumpang lain yang juga seorang pria,  “mas ini cara makenya gimana ya? “, pria itu acuh tak acuh banget “gak tau mas”.

Gue termasuk orang yang kepoan, sambil mikir curiga, “wah jangan-jangan abis maling tuh orang”. Abis itu untungnya langsung sadar kalau gue udah seudzon. Ya sudahlah gue kayak pria tadi aja. Acuh tak acuh.

Commuter Line Jabodetabek

Seakan ada yang baca pikiran gue, tiba-tiba ada pria (sebut saja Mawar) sekitar umur 25an (ya beti* lah sama gue) menghampiri pengamen tadi sambil bilang, “mas hpnya dari mana tuh?” Gue rada samar dengernya, kurang lebih agak nuduh pengamen tadi. Kemudian si pengamen langsung jawab, “Ini punya bini saya, saya ambil aja. Abisnya dia main facebook mulu. Saya mah ga ngerti android ini aja nyalainnya gimana ga ngerti”. Pokoknya mereka sedikit berdebat masalah hp, sampai si pengamen turun di stasiun jatinegara.

Mas Mawar perlahan nyamperin gue dan tiba-tiba nanya, “Mbak, punya aplikasi grab ngga?”

“Iya. Pu.. nya.” Sambil ragu-ragu juga jawabnya.

“Boleh pinjam aplikasi grabnya ngga, Mbak? Hp saya ketinggalan tadi dari Citayam. Uang saya nggak cukup buat naik ojek pangkalan.”

“Ya. Insya Allah.” Gue yang pake masker cuma ngangguk aja, agak deg-degan juga dengan segala kemungkinan tidak baiknya. Gue baca ayat kursi aja dalam hati, semoga selalu dilindungi sampai di rumah. Kemudian masnya melipir ke deket pintu kereta. (posisinya gue duduk di tengah-tengah kursi)

Kemudian bapak-bapak di sebelah gue (sebut saja Melati) ngajak ngobrol pelan-pelan. “Mbak, itu masnya mau kemana?”

“Saya nggak dengar tadi masnya mau kemana. Yang jelas dia mau naik grab dari stasiun kranji, Pak.”

“Mbak, punya uang 20 ribuan nggak? Nanti saya ganti di stasiun bekasi. Uang saya 100 ribuan. Mending kita kasih dia uang aja. Lebih praktis daripada pakai aplikasi punya Mbak.”

“Oh iya benar juga, Pak. Agak ragu juga sih saya tadi. Tapi saya juga uangnya 50 ribuan Pak :(”

Tiba-tiba mas Mawar nyamperin gue lagi. Sambil agak memohon untuk order grab. Bapak Melati sambil hati-hati ngelihatin gerak gerik mas Mawar sambil agak mengintrogasi. Seperti, “Mau kemana, Mas?” “Kenapa nggak naik ojek pangkalan saja? Jauh nggak tujuannya?” “Kasihan loh nanti tukang grabnya nghubungin Mbaknya kan bingung”, dan lain-lain. Alhamdulillah, gue yang gak berani nolak ini dibantu sama Pak Melati πŸ™‚ Oh iya, sambil diinterogasi itu gue juga ngorderin grab untuk masnya.

Sampai akhirnya tiba di stasiun kranji, ternyata nggak ada driver yang pick up. Gue menghela napas. Fyuh~

“Mas, nggak dapet driver ini. Maaf ya.”

“Oh, iya nggak papa, Mbak. Makasih ya, Mbak. Mari, Pak.” Kami berdua mengangguk (gue dan Pak Melati).

Gue dan Pak Melati sedikit ngobrol-ngobrol tentang kejadian tadi, sambil menunggu kereta tiba di stasiun bekasi.

—–

Sebenernya gue bukan suudzon, tampangnya nggak mencurigakan kok. Pakaiannya juga normal. Tapi jaman sekarang kita harus lebih waspada terhadap orang nggak dikenal yang tiba-tiba minta tolong sesuatu. Perlu kita lihat juga, orang tersebut sekiranya masih mampu fisik dan materi, nggak? Apakah dia fakir atau punya keterbatasan fisik? Bukannya cuek, atau tega, dan sebagainya. Gue pernah denger berita juga ada penipu yang tampangnya kayak anak kuliahan, rapih, berjilbab, berkacamata. Siapa yang tahu kan. Sebagai orang yang kesehariannya di daerah Jabodetabek harus lebih aware untuk perlindungan diri. Karena modus orang berbuat kejahatan bermacam-macam dan seringnya halus tanpa jejak.

*beti = beda tipis
Advertisements

13 thoughts on “Mbak, boleh pinjam aplikasi ojek online nya?

  1. “mbak, boleh pinjem hpnya?”

    *kemudian save nomor πŸ˜‚

    di ruang publik, antara kasihan dan waspada emang dilematis, saya sih andalin intuisi ~dan juga deduksi ala sherlock~

    1. Hahaha ide baguus. Niatnya sih biar gemes gitu mas, dan gak menyeramkan, jadi pake nama bunga πŸ˜€

    2. Biar “gemes” ya.. Hihi, sesuatu sekali.. Tapi aslinya kebanyakan bunga itu berkelamin ganda loh.. Cuma entah mengapa diidentikkan dengan perempuan, mungkin karena bunga itu “cantik”, meski gak semua bunga “cantik”.. #apasih #gajelas #abaikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s