Kontemplasi

Insomnia

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.00 wib, waktu dimana aku mulai memejamkan mata. Iya, baru memejamkan mata. Sedetik kemudian pikiran mulai melanglang buana entah kemana. Ini tanda-tanda bakal insomnia (lagi). I hate this situation. You’ll do nothing for several hours, but you also can’t do anything because your body is very tired. Berdoa sudah, berzikir sudah. Masih belum terlelap juga, alam sadar pun belum ingin menutup pintunya. Putar otak lagi, harus ngapain.

PhotoGrid_1495965145270.png
Insomnia

Dulu, waktu masih sd, kalau tidak bisa tidur seperti ini, aku hanya perlu ke kamar mama, nangis, pelukan, sampai ketiduran. Tapi sekarang gak bisa.

Ini saatnya mengosongkan pikiran. Aku terus bergumam, ‘jangan dipikirin.. jangan dipikirin’. Karena entah mengapa semua hal yang pernah kualami, yang tersimpan dalam memori, semua berkumpul, saling menyapa secara random. Semua berkecamuk menjadi satu, saling berebut ingin menempati urutan pertama dalam pikiran. Tiba-tiba kesalahan yang dulu-dulu pernah aku lakukan menampakkan dirinya seakan memintaku untuk kembali merenung. Gak bisa nolak, aku akhirnya merenungi semua kesalahan dan permasalahan satu peratu. Semakin banyak, muncul lagi tiada henti. Rasanya ingin aku teriakan, ‘DIAM!’. Sesaat kemudian, bayangan tentang teman-teman dan kekasih muncul dan menyelak barisan kesalahan untuk menjadi urutan pertama di dalam otak. Pusing sampai ke ubun-ubun. Kenapa dengan diri ini. Tiba-tiba kamar terasa sangat dingin, padahal selimut sudah ditarik sampai ke atas, ke wajah, ke ujung rambut, dan… ‘hosh.. hosh.. hosh’. Yap! Aku kehabisan napas. Kemudian tiba-tiba kandung kemih terasa penuh dan isinya meminta dikeluarkan. ‘Oke, baiklah. Kuturuti.’ Beranjaklah aku ke kamar kecil. Masuk kamar lagi, lalu terduduk di sisi tempat tidur sambil menelungkupkan wajah. Kemudian berbaring menciptakan posisi senyaman mungkin. Ternyata mereka masih berbaris, iya, pikiran-pikiran itu. Aku gak tahan.

Nyalain lampu, baca buku. Buku yang pertama aku baca adalah Teori Statistika II oleh Pak Andi Hakim. Bukan ngantuk yang didapat, malah rasa pusing yang meningkat. Teringat lagi, dulu pernah nonton Mr. Bean eps Goodnight. Scenenya adalah malam harinya Mr. Bean yang susah tidur. Endingnya, dia menghitung domba-domba yang sangat banyak pada sebuah gambar. Dan aku ikutin, mencoba searching di google dengan keyword ‘insomnia counting sheep’, terus ganti lagi jadi ‘sheep for sleep’. (How silly I am). Sampai akhirnya aku tetap nggak bisa tidur. Ternyata tradisi menghitung domba adalah tradisi barat dengan teknik sugesti. B.Inggrisnya domba adalah ‘sheep’, that sounds like ‘sleep’ yang berarti tidur. Sehingga kalau kita mengitung 1 sheep, 2 sheeps, 3 sheeps… diharapkan otak tersugesti for going to sleep as soon as possible.

Nggak terasa, tiba-tiba azan subuh berkumandang. Aku langsung ambil wudhu, kemudian solat, berharap setelah ini bisa tidur dengan nyenyak. Tapi hasilnya nihil, sampai jam 8 pagi pun aku tetap nggak bisa tidur. Untungnya ini hari libur dan nggak ada agenda kemana-mana. Mencoba buka hp, buka media sosial, baca-baca buku lagi. Sepertinya jam 9 aku mulai ketiduran. Selama 1 jam. Jam 10 terbangun lagi. Aku nyerah.

Yaudah, beraktivitas saja.

Advertisements

9 thoughts on “Insomnia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s