Opini

Ketika Opini dan Fakta Dicampuradukkan

pic source: blog.dreamstime.com

Belakangan ini, Indonesia sedang mengalami keretakan sosial. Ini istilah gue sendiri. Karena yang tadinya ramah, damai, dan bersahabat, sekarang sudah mulai retak. Perihal pilkada DKI sekarang sedang hangat diperbincangkan oleh masyarakat seluruh Indonesia, bahkan sampai mancanegara sekalipun. Gue adalah salah satu dari kalian yang merasa bosan dan sangat capek melihat dan mendengar perselisihan antara kubu pro BTP dan kontra BTP. Setiap membuka social media atau instant messenger manapun, selalu ada bahasan mengenai hal itu. Menurut gue, hal seperti inilah yang menghambat produktifitas dan kreatifitas orang-orang. Bayangkan saja, setiap ingin membuka instant messenger seperti whatsapp (misalnya), buka grup niatnya ingin mendapatkan informasi terkait dengan grup tersebut, namun yang didapat apa? Segala bentuk ‘postingan’ yang dishare secara asal tanpa tabayyun terlebih dahulu, kemudian kalau mau membaca berita, trending topiknya adalah pilkada DKI, dan banyak hal lain yang bisa menyita waktu produktif kita.

Sekarang, kalau buka insagram atau facebook, timeline gue udah ngga seger lagi, perang status pun masih berlanjut sampai saat ini. Menurut gue apa untungnya? Kubu pro akan selalu merasa benar dan kubu kontra akan selalu menyalahkan. Mending, kalau konten statusnya bersifat positif, yang terjadi adalah saling sindir satu sama lain. Nggak ngaruh guys! Kubu pro nggak akan pernah terhasut akan postingan kubu kontra. Begitu juga sebaliknya.

Yang lebih parahnya lagi, sekarang masyarakat awam sudah tenggelam sangat dalam akan berita-berita yang tidak kita ketahui kebenarannya. Public figure dan media sudah menjadi penguasa dalam menyebarkan isu-isu politik terkait. Ketika ada postingan yang pro BTP, si kubu pro senang dan merasa benar kemudian membagikannya ke semua grup yang ada di handphonenya. Handphone, loh! It’s mean semua social media dan instant messenger dari whatsapp, line, Instagram, dan lain-lain. Begitu juga si kubu kontra yang akan selalu membenarkan fahamnya. Postingan-postingan tersebut tidak akan merubah mindset kubu lawan, apalagi jika diutarakannya dengan bahasa yang kurang baik. Semuanya sia-sia, kita share tulisan-tulisan atau gambar tersebut, yang ngasih like juga teman sekubu, yang komentar juga teman sekubu. Jadi, why do we spin in our own circle?

Apakah masyarakat benar-benar mengenal dan mengetahui pemimpin pilihannya dengan baik? Apakah masyarakat tahu bagaimana kelebihan dan kekurangan mereka? Gue yakin, nggak semua tahu. Pun kalau ada yang tahu, mereka akan menutupi kekurangannya karena sudah terlanjur cinta dengan ‘jagoannya’ atau mereka terlalu mempertahankan prinsip yang dipegangnya. Sehingga, kalau ada postingan positif tentang ‘jagoannya’, mereka akan langsung send, forward, dm ke semua teman maupun grup. Apakah kita tidak pernah berfikir kalau berita tersebut tidak sepenuhnya benar? Sudah tidak ada yang bersih, media sudah mencampuradukkan opini mereka dengan fakta yang pernah mampir di telinga masyarakat untuk menggiring paradigma kita agar semakin terbawa arus. Yang untung siapa? Pemerintah. Media. Kita? Ditertawakan. Masyarakat awam hanyalah boneka yang dimainkan oleh penguasa dan media. Kita mati-matian membela ‘jagoan’ tapi mereka baik-baik saja, masih bisa makan enak, naik mobil mewah, bersenda gurau.

Bukan ranah gue untuk membicarakan siapa lebih baik daripada siapa. Btw, ktp gue juga Bekasi, bukan Jakarta. Gue hanya mau mencoba melihat dari segala sisi. Disini pun gue juga hanya boneka yang (tidak mau) dipermainkan. Gue udah nggak percaya media, postingan apapun berbau politik pasti akan gue abaikan. Sama aja dong kayak lo golput? Enggak, gue nggak golput, gue juga bukan pihak netral. Gue hanya tidak memliki kekuasaan untuk merubah mindset masyarakat. Gue juga bukan siapa-siapa yang bisa ikut terlibat dalam kebijakan pemerintah. Yang penting kan dakwah? Iya, benar. Kita diciptakan Allah pada dasarnya memang untuk berdakwah. Tapi, berdakwahlah sesuai kemampuan dan jangan lupa tabayyun. Kalau mau melek politik, baca fakta! Pahami kekurangan dan kelebihannya, pertimbangkan lagi siapa yang menurut kita pantas untuk menjadi pemimpin, dari semua sisi. Nggak adil kalau mau membandingkan seperti ‘mending non islam tapi jujur daripada islam tapi korupsi ‘. IT’S NOT FAIR AF. Apakah yang islam itu selalu tidak jujur? Apakah yang non islam tidak pernah korupsi? Think smart. 

Kalau kita ingat lagi, kisah tentang nabi Ibrahim yang dibakar oleh raja Namrud. Semut berbondong-bondong membawakan air untuk meredakan api dan cicak beramai-ramai meniupkan api agar semakin berkobar. Jika dipikir menggunakan logika, apakah mungkin semut dan cicak tersebut memiliki pengaruhnya? Tidak mungkin hewan sekecil itu dapat memberikan efek yang besar. Gue bukan orang alim dan pintar politik. Tapi setidaknya, Allah tahu kita berada di pihak yang mana.

 

 

*hasil ngobrol-ngobrol dengan keluarga kemarin malam*

No hard feelings. Manusia tempat salah dan lupa, maaf kalau banyak kata-kata yang sensitif. Feel free to disscuss 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Opini dan Fakta Dicampuradukkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s