Cerita-cerita

Pernah nggak melakukan perjalanan berbatu, berliku, dan sangaaaaaat panjang? Apa yang lo pikir tentang perjalanan ini? Pastinya sama sekali nggak monoton kan? Karena perjalanannya nggak gitu-gitu aja, selalu ada halangan dan rintangan. Iya kan? Dan pernah ngga, ketika kalian hampir di ujung jalan, surga dunia itu belum juga keliatan tiangnya sedikitpun? Bahkan baunya pun nggak tercium sama sekali?

Oke, sekarang gue sedang berada di titik menjenuhkan itu. Beberapa bulan terakhir ini gue ngerasa hidup gue hambar banget. Kuliah, tugas numpuk, ujian bederet, totalitas di organisasi, rela berkorban apapun demi kepanitiaan, event besar, dan lain-lain. Pastinya nggak mudah buat melewati perjalanan sejauh ini, sangat nggak mudah. Sejujurnya sangat banyak pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan ini. Jatuhnya gue, bangkit, jatuh lagi, kemudian bangkit lagi, hancurnya hati akan sikap atau lidah orang lain, pahit manisnya organisasi dan kepanitiaan pun udah gue alami, walupun ini sama sekali belum ada apa-apanya. Sama sekali.

Beberapa hari terakhir ini gue baru sadar kalau rambut gue sangat rontok yang mungkin sedikit nggak wajar. Nggak pernah rambut gue serontok ini sebelumnya, setiap bangun tidur, banyak banget rambut di atas bantal. Gue nggak sadar apakah gue sesetres ini. Gue juga nggak sadar apa yang bikin gue sedepresi ini. Terkadang gue ngerasa beda ketika gue ada di depan orang banyak dan ketika gue sendirian di kamar. Di depan semua orang gue menunjukkan segala keceriaan gue. Lelucon dan semua tawa juga rasanya palsu. Ketika udah sampe kamar, gue cuma ngelamun terus ujung-ujungnya nangis. Walaupun nggak terlalu sering. Nanti kalau intensitasnya udah terlalu sering, tolong bawa gue ke pskiater.

Beberapa bulan terakhir, saking jarangnya gue ada di kosan, gue jarang banget baca buku-buku kesukaan gue, semua cuma dipajang rapi di atas meja sampe debu-debu yang menemani buku-buku kesayangan gue itu. Jujur sih, selain gue melakukan ativitas yang “mahasiswa” banget, gue juga suka hang out sama temen-temen misalnya makan di luar atau sesekali pergi ke mall. Tapi mungkin gue nggak se-happy dulu. Udah lama banget gue nggak ketawa lepas.

Udah saatnya gue kasih reward buat diri gue sendiri, entahlah apa itu, yang jelas gue butuh sedetik buat mikirin kebahagiaan gue dibanding yang lain. Please let me for a second 😦

Dan udah saatnya juga untuk ambil wudhu, udah saatnya mengadu pada Sang Pemilik Nafas, membiarkan air mata ini membasahi sejadah, dan menikmati usapan tangan Tuhan ketika berada di tempat yang serendah-rendahnya, ketika bersujud. Mungkin juga selama ini gue melupakan Dia yang bahkan selalu ada di samping gue, melancarkan segala urusan gue, sedangkan gue udah terlalu sibuk dengan urusan duniawi. Udah saatnya juga ruhaniyah ini perlu discharge kembali, distabilkan kembali keimanannya.

Mungkin air mata ini adalah air mata rindu, rindunya seorang hamba yang sangat rendah pada Tuhan Sang Maha Tinggi..

Allah, maafkan aku, tetaplah berada di dalam jiwaku, dan setiap langkahku…

 

Advertisements

5 thoughts on “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s