Ayah · Cerpen · Ibu

Pemilik Cinta Sejati

Tawa renyah itu menyelimuti diriku yang baru saja keluar dari gedung Graha Widya Wisuda. Senyum ku merekah ketika toga ku lempar ke udara bersama teman-teman seperjuanganku. Ku lirik lagi ijasahku. Nilai yang sangat memuaskan itu membuat pikiranku melayang lagi ke beberapa tahun ke belakang. Sungguh, perjuanganku tidak sia-sia. Semua yang ku harapkan, kini ku gapai dengan indahnya.

Tiba-tiba, belaian tangan lembut seorang wanita mendarat di pipiku dan mencium keningku. Ku tatap wajahnya dalam-dalam. Wanita itu, terlihat bulir-bulir air matanya mulai membasahi pipinya. Ia sudah tidak secantik dulu. Kini ia begitu lemah, keningnya berkerut. Telapak tangannya mulai kasar. Oh Tuhan…. Aku melupakannya. Seketika aku sadar, wanita inilah yang menjadikan aku lebih kuat untuk menjalaninya. Dia yang selalu merangkulku, merawatku dengan tangan lembutnya yang penuh cinta. Tangannya yang kasar itu.. Itu karena beratnya merawat seorang gadis sepertiku. Oh Tuhan.. itu semua karena aku. Tubuhnya yang kini lemah tak berdaya, itu juga karena beratnya beban yang harus ia pikul karena aku sudah menjauh darinya beberapa tahun ini. Dan keningnya yang berkerut, itu pula karena aku yang suka melalaikan nasehatnya.

Tuhan….. maafkan diriku yang telah melupakan pemilik cinta tanpa syarat ini. Saat itu juga ku peluknya sembari ku berkata, “Mamah, terima kasih sudah mengantarkan perjuanganku sampai detik ini.” Kemudian ia pun ikut menangis dan terus menangis, sampai seorang pria tiba-tiba mengusap kepalaku. Ku tatap lagi wajahnya yang mulai keriput. Tulang pipinya kini terlihat sedikit menonjol, keningnya pun berkerut, rambutnya memutih, badannya kini kurus hingga bentuk tulang lehernya jelas terlihat. Kembali lagi aku menatapnya dalam-dalam yang semakin membuatku pilu.

Oh Tuhan… aku juga melupakan orang ini? Sungguh dosaku kian menumpuk. Ku sadari bahwa karena pria inilah yang sesungguhnya bisa membuat aku berada disini sampai saat ini. Tubuhnya yang semakin kurus menandakan bahwa betapa sulitnya mencari uang. Dan demi diriku, ia rela setiap hari bekerja keras melawan teriknya matahari, tak peduli akan air hujan yang membasahi dirinya, peluh di dahinya tak pernah ia hiraukan. Itu semua agar aku bisa terus melanjutkan pendidikan hingga saat ini. Oh Tuhan.. dialah pemilik cinta yang terlupakan, yang selama ini kupanggil dengan sebutan “Papah.”

Aku terduduk merenungi semua kesalahanku pada mereka. Sungguh besar jasanya yang tidak akan pernah dapat kubalas. Namun kupikir, selama nafas ini masih berembus, selama jantungku masih berdetak, dan selama ragaku masih bernyawa, aku berjanji untuk terus berusaha membahagiakan mereka. Tak henti air mataku terus jatuh, sampai tiba-tiba mamah dan papah menarikku dan mengajakku berdiri. “Selamat ya Nak, kau lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Mamah dan papah bangga memilikimu, sayang.”

 

 

Bismillah, 3 years later..

Advertisements

One thought on “Pemilik Cinta Sejati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s