Cerita-cerita

Kebahagiaan Anak Rantau

Mungkin agak berlebihan gue posting tentang ini sekarang. Padahal gue baru sebulan ngga tinggal sama orang tua lagi. Yaa, merantau. Kalian boleh kok tertawa. karena gue cuma ngerantau ke Bogor, dan orang tua gue di Bekasi. Deket kaaaan….

Tapi kerasa loh yang namanya baru pertama kali tinggal jauh dari orang tua. Di mana kita harus melakukan semuanya sendiri. Dan harus siap juga ngga bertatapan muka sama orang tua. Dari bangun tidur, nyiapin makanan, baju, dan melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan dan uluran tangan dari orang tua. Kalo mau nangis, atau ada masalah di kampus? yaa cari temen baik aja yang mau nemenin. Gak ada orang tua.. Kalo mau makan, minum, jalan-jalan? cari temen aja lah pokoknya. Inget, kalo kita udah ngga sama orang tua lagi.

Yang paling memilukan adalah ketika bulan Ramadhan. bandingkan dengan tahun lalu. Orang tua selalu bangunin sahur. Pas bangun, makanan udah siap. Pas buka puasa, makanan banyak, takjil tersedia. Ngabuburit sama keluarga atau temen sekolah. Tapi sekarang? kerasa bangeeeeet…. Bangun sahur sendiri, kadang telat dan harus nyari makan dulu keluar. Buka puasa juga harus cari makan sendiri. Traweh bersama orang-orang sesama perantau. Ngga ada mamah di sebelah kanan atau kiri. Nggak ada adik atau kakak atau tetangga yang selalu duduk dan berdiri 1 shaf sama kita pada saat traweh. Ngga ada acara ngabuburit lagi bareng temen SMA.

Sungguh, rindu ini sangat tertahan dan mulai bergejolak. Gak sabar gue mau pulang ke rumah, memeluk mamah, papah dan adek. Gak sabaaaar mau cium mamah, disuapin. Mau peluk mereka, mau Buka bersama mereka, mau lebaran di rumah, mau minta maaf sama mereka semua atas kesalahan gue. Kangeeeen anget rasanya. Kangen dengan semua kenangan indah waktu kecil, kangen sama belaian kasih sayang mamah, papah, dan betapa nyebelinnya adek yang gue rindukan selama disini..
Disana, kalian kangen juga ngga?

Dan ketika gue pulang ke Bekasi menjelang lebaran. H-seminggu lebaran. dan inilah puncak kebahagiaan anak rantau. Ketika rindu yang menyesakkan dada itu terobati, ketika sakitnya menahan rasa kangen ingin bertemu itu terbayarkan. ketika semuanya seperti mimpi.

Kemudian gue lihat lagi orang tua gue yang sudah mulai menua. yang sudah tidak seperti dulu lagi di waktu gue kecil, yang bisa melakukan apa saja untuk membesarkan ank-anaknya. Tapi mereka masih tetap mampu memberikan kasih sayang tulus itu buat gue dan adik gue.

Dan ketika lebaran itu tiba. Wajahnya bagaikan malaikat berwujud manusia yang Tuhan berikan dalam hidup gue. Yang kemudian memaafkan segala kesalahan gue sebelum gue meminta maaf. Yang mencium kening gue di saat gue menangis karna terlalu banyak kesalahan gue yang bikin mereka kecewa punya anak kayak gue.
Terima kasih mah, Pah.. Udah ngerawat Dea dan ngebesarin Dea sampe kuliah gini. Maafin semua kesalahan Dea ya selama ini yang bikin kalian menangis tanpa air mata saking perihnya. Maaaaf…. karena Dea belum bisa jadi anak yang membanggakan kalian.
“Dea cukup turutin apa kata mamah papah, Dea tetep sehat jasmani rohani.. itu udah bikin Mamah sama Papah bahagia punya anak kayak dea 🙂 “

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s