Cerpen

Berawal Dari Chatting

Suatu malam, aku mencoba aplikasi mXit di handphoneku. Semacam aplikasi chatting. Aku berekanalan dengan banyak orang yang tidak aku kira, ternyata mereka satu sekolah denganku. Tiba-tiba ada yang memulai chat pribadi denganku, namanya Aldi. Senang berkenalan dengannya.

Ternyata dia adalah kakak kelasku di sekolah. Walaupun hampir tiap malam aku chat pribadi dengan Aldi, aku tidak pernah bertemu apalagi menegur sapa dengan Aldi. Semakin hari aku semakin nyaman dengan keberadaannya walaupun kami berhubungan hanya lewat chat mXit. Aku tidak menyadari apa yang aku rasakan. Aku, mungkin yaa menyukainya.

Hampir setiap malam aku online, hanya untuk menunggunya, menunggu Aldi. Karna terlalu sukanya aku dengan Aldi, aku rela menunggunya online sampai tengah malam, kalau Aldi tidak online malam itu, aku juga akan offline. Karena aku hanya ingin chatting dengan Aldi. Aku pernah begadang hanya demi chatting dengan Aldi. Padahal aku sudah kelas 3 SMP. Sebentar lagi aku akan menghadapi UN. Aku tidak peduli, yang penting aku bisa berhubungan dengan Aldi walaupun Aldi sudah SMA sekarang.

Beberapa lama kami berhubungan seperti ini, akhirnya Aldi menembakku juga. Tanpa pikir panjang, aku menerimanya. Walaupun kami tidak pernah bertemu dan aku pun sama sekali tidak mengetahui nomor handphonenya. Aku menjalin hubungan kekasih dengan Aldi, aku masih berhubungan dengannya melalui chat mXit. Yang penting aku masih bisa bertukar kabar dan cerita dengannya, sampai pada suatu hari aku mengetahui kalau Aldi menyukai teman sekelasnya yang bernama Maya. Betapa hancur hatiku mengetahui hal ini. Aldi yang mengakuinya sendiri padaku kalau dia menyukai Maya, tapi hanya sekedar menyukainya. Tifa pasti kuat. Ucapku dalam hati. Ya aku percaya penuh pada Aldi kalau dia tidak akan selingkuh dengan Maya.

Baru beberapa hari aku jadian dengan Aldi, hubungan kami sudah mulai retak. Tapi aku selalu berusaha untuk mencoba mempertahankannya. Sebulan, dua bulan, sampai lima bulan aku lost contact dengan Aldi. Aku tetap menyayanginya. Aku benar-benar mencintainya. Apapun itu, aku berusaha agar kami tidak putus. Pada bulan ke enam akhirnya dia menghubungiku. Betapa senangnya hatiku.

Keesokan harinya, aku bercerita kepada Firda dan Maria, sahabatku. Kebetulan, mereka mengenal Aldi. Tanpa aku ketahui, ternyata mereka yang mendesak Aldi untuk menembakku waktu itu. Jadi ? jadi Aldi tidak benar-benar menyukaiku. It’s so pathetic.

“Ya Tuhan, lo berdua jahat banget Da, Mar.” ucapku semakin sedih. Tanpa kusadari air mata jatuh ke pipiku.

“maaf banget, Tif, karna waktu itu gue ngeliat lo bener-bener mengharapkan Aldi. Dan kita pengen ngeliat lo bahagia.” Jawab Firda dengan merasa bersalah.

“Tapi kan bukan kayak gini caranya.”

Nasi sudah menjadi bubur. Perasaanku pada Aldi sudah terlalu dalam dan aku tidak bisa melepasnya. Aku akan terus berusaha membuat Aldi benar-benar menyayangiku tanpa paksaan siapapun. Aku berhasil. Dia memberikan perhatian lebih padaku. Ini yang aku harapkan. Terima kasih Aldi.

Aku menjalin hubunganku pada Aldi dengan baik. Aku bahagia memilikinya di sampingku. Dia benar-benar baik. Dia meminjamkan buku-bukunya padaku karena waktu itu aku sedang menjelang UN. Dia yang datang ke rumahku untuk mengantarkan buku-buku itu. Dia yang setiap hari mengisi hari-hariku, membuat aku nyaman berada di dekatnya.

Sudah setahun aku menjadi kekasih Aldi seorang. Hingga pada suatu hari aku bertengkar lagi dengannya karna masalah yang sama. Dia mengaku padaku kalau dia menyukai temannya yang bernama Citra.

“Aku cuma suka sama dia kok sayang. Nggak lebih dari itu.”

“Kamu nggak tau perasaan aku apa ? kamu kok tega sih ngomong kayak gitu sama aku ? kenapa kamu suka sama dia ? aku salah apa ? kamu udah nggak sayang lagi sama aku ya?”

“Kan aku bilang aku cuma suka, karna dia lucu dan enak dilihat. Itu aja kok. Aku masih tetep sayang sama kamu.”

Aku semakin kesal. Kenapa dia seenak jidatnya menyukai cewe lain dan mengakui hal itu padaku. Akhirnya dia mengatakan yang sebenarnya padaku.

“Dulu, aku emang terpaksa jadian sama kamu. Aku nggak sebenernya suka dan sayang sama kamu. Tapi saat ini, aku mulai merasakan itu. Aku sayang sama kamu. Kamu harus tahu itu.”

Air mataku jatuh tak tertahan. Hatiku menjerit. Sungguh sesak dada ini. Ingin rasanya aku berteriak dan menangis sekencang-kencangnya tanpa ada seeorang pun yang tahu. Tapi itu tidak mungkin. Aku masih kuat. Aku bisa bertahan. Tapi siapa yang tahu. Perih. Perih sekali hati dan perasaan ini seperti disayat-sayat. Aku hanya manusia biasa yang rapuh. Aku hanya mengharap kesetiaan Aldi. Aku hanya ingin Aldi menghargai keberadaanku. Aku terus berharap Aldi menyayangiku dengan tulus. Aku harap tidak ada yag merasakan hal ini. Cukup aku saja yang menderita seperti ini.

“Aku mau putus aja. Aku rasa kita udah nggak cocok. Aku bukan yang terbaik buat kamu.” Aldi mengatakannya padaku. Darahku mengalir deras. Hubungan yang selama ini aku jaga. Aku yang berusaha selalu sabar menerimanya, walaupun aku tahu dia telah menyakiti hatiku dan aku percaya kalau suatu saat dia akan berubah. Tapi saat ini dia yang meminta untuk putus. Aldi memang tidak punya perasaan. Tega.

“Aku nggak bisa Aldi. Aku sayang sama kamu. Aku akan terima bagaimanapun keadaannya. Aku terima ini semua asalkan kita nggak putus.” Aku dengan penuh harap.

“Ya, kita lihat saja nanti. Kita jalani hubungan yang seperti ini. Kita buat lagi keputusannya sampai aku pulang dari Bandung.”

“Aku harap kita bisa membangun kembali hubungan yang baik, Aldi. Aku sayang sama kamu.”

Jiwaku rapuh.

Advertisements

One thought on “Berawal Dari Chatting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s